Kritik Terhadap Marhaenisme Sukarno

Marhaenisme adalah nama dari idealisme politik yang dicetuskan Sukarno muda. Didalam buku biografinya Bung Ķàrno penyambung lidah rakyat Indonesia. Diceritakan didalam buku tersebut bahwa suatu hari ia berjalan-jalan di daerah persawahan, Bandung. Singkat cerita bertemulah ia dengan seorang petani miskin bernama Marhaen yang nama itu diambilnya untuk menjadi identitas bagi rakyat seluruh Indonesia.

Marhaen disini adalah seorang petani yang memiliki sendiri sawahnya yang sempit, dia juga menggarap sendiri sawahnya tersebut. Alat-alat kerjanya pun miliknya sendiri. Itulah ciri seorang Marhaen yang dengan sekali pukul rata Sukarno muda menganggap seperti inilah kondisi seluruh rakyat Indonesia. Padahal semua ini terjadi karena kebebasan kepemilikan tanah sehingga memungkinkan para borjuis kapitalis menguasai tanah seluas-luasnya sehingga si petani kecil hanya mempunyai kepemilikan yang kecil pula. Bahkan tak sedikit petani yang tak memiliki tanah sama sekali.

Kekeliruan Sukarno muda ini dapat dengan mudah dibantah paling tidak dengan melihat pandangan seorang Tan Malaka. Tan Malaka menemukan kenyataan yang berbeda, yaitu di Deli, Sumatera Barat. Orang-orang dijadikan pekerja paksa oleh Kolonialis Belanda. Tenaga mereka di peras untuk bekerja keras dan banting tulang dengan upah yang sama sekali rendah bahkan tidak layak.

Jumlah mereka yang dihisap dan ditindas ini sebenarnya jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan kaum Marhaennya Sukarno. Bahkan penghisapan ini masih berlaku hingga sekarang meski dengan cara yang mungkin agak berbeda.

Lagipula sistem yang disebut Marhaenisme itu lebih menunjukkan gejala-gejala sebagai borjuis kecil. Dan menghalangi pemerataan ataupun keadilan sosial. Berbeda dengan gagasan Sukarno tua yang lebih revolusioner dan konsekuen anti kapitalis.