Salah Satu Penyebab Utama Kehinaan Diri adalah Ketamakan

Tidaklah tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih ketamakan

IBNU ATHA'ILLAH MENGUMPAMAKAN kehinaan dengan sebuah pohon. Dahan-dahannya adalah perumpamaan bagi berbagai jenis kehinaan. Ia juga mengumpamakan ketamakan dengan sebuah benih. Seakan Ibnu Atha'illah berkata "jangan kau tanam benih ketamakan di hatimu sehingga akan tumbuu menjadi pohon kehinaan yang dahan dan rantingnya akan bercabang-cabang".

Ketamakan merupakan sikap tercela yang dapat merusak 'ubudiyah. Bahkan, ia adalah pangkal segala kesalahan. Ketamakan menandakan ketergantungan dan penghambaan manusia terhadap manusia. Di sinilah letak kehinaan dan kenistaan sikap ketamakan. Sebabnya adalah keraguan terhadap sesuatu yang telah ditakdirkan Allah.

Oleh karena itu, ia kemudian berkata " jika ketamakan di tanya "siapa bapakmu ?" Niscaya ia akan menjawab "keraguan terhadap takdir". Jika ditanya "apa pekerjaanmu ?" Ia menjawab "mencari kehinaan". Jika ditanya "apa tujuanmu ?"  Ia menjawab "memiskinkan seseorang".

Ketamakan juga dapat merusak agama. Ketika Ali bin Abi Thalib mendapati penutur kisah tengah bercerita banyak hal di masjid Agung Bashrah, ia menyuruh mereka berdiri. Kemudian, ia mendatangi Hasan Al-Bashri (30-110H) dan berkata "hai anak muda, aku akan menanyakan kepadamu satu hal. Jika kamu mampu menjawabnya dengan tepat, kubiarkan kau disini. Namun, jika kau salah, aku akan berdirikan kau seperti teman-temanmu itu".

Ali memandang Hasan Al Bashri. Dilihatnya pada diri pemuda tersebut tersimpan tanda petunjuk dan kecerdasan.

Hasan Al Bashri pun menjawab "tanyalah semaumu"
"Apa gerangan yang menjadi pengendali agama?" Tanya Ali kepadanya.
Hasan menjawab "sifat wara".
Ali bertanya lagi "apa yang menjadi perusak agama ?"
Hasan menjawab "sifat tamak".

Kemudian, Ali berkata "duduklah ! Orang sepertimu layak berbicara dihadapan manusia. Wara' (menjauhi) ketamakan adalah wara'nya orang-orang khusus (kawwash). Sikap ini menunjukkan kokohnya keyakinan, sempuranya tawakal, dan tenangnya hati terhadap Allah. Berbeda dengan wara'nya orang-orang biasa (awam) yang baru sebatas meninggalkan perkara-perkara syubhat".