Begitulah Manusia


Si Tole itu dulu seorang pemulung miskin yang hidup di tepian jurang. Namun karena nasib baik tiba-tiba dia berubah menjadi pemuda yang lumayan berduit. Hal itu membuat sikap si Tole ikut berubah 180 derajat. Dia yang dulu berjalan menunduk sekarang membusungkan dada dan hendak menundukkan semua orang yang ada di hadapannya. Dengan uang segepok yang ada di saku, kelakuannya bak seorang meneer belanda.

Tole mencintai seorang gadis cantik anak seorang juragan rongsokan. Agak nya Tole cinta mati kepada gadis cantik berkulit putih bersih yang bernama Alea itu. Buktinya Tole rela menghabiskan uangnya untuk memenuhi kehendak Alea. Tapi sayang Alea dak berminat terhadap cinta Tole, baginya Tole hanya teman biasa. Tole yang merasa jumawa dengan hartanya itu jadi tak berkutik sekarang. Kenyataan hidup memberinya pelajaran kini, bahwa tak segalanya bisa di beli dengan uang.

Pulang ke habitat Tole masih saja dengan lagak noraknya. Menghina dan menindas pada yang lemah. Sampai ia bertemu dengan seorang Gila yang tak kenal kompromi. Si Gila ini meski terlihat lemah namun sejatinya dia tak bisa di perbudak. Maka Tole pun membencinya. Segala cara ia lakukan untuk menaklukan Si Gila tersebut. Termasuk dengan menghambur-hamburkan uang. Tapi Si Gila tak bergeming, dia terus melawan kelaliman demi kelaliman yang di lakukan Tole. Sampai akhirnya Tole hancur hingga ke akar-akarnya. Kemudian Si Gila berteriak dengan lantang dimuka Tole "Persetan dengan uang mu hai Bajingan tengik, mulai sekarang jangan pernah ganģgu aku lagi" lantas Si Gila pun berlalu meninggalkan Tole yang terbelalak. Kemudian Tole tersadar dari tidurnya di tepian jurang sambil berkata " Ah sial.... aku kesiangan mulung hari ini".