Hikayat Bomb Bunuh Diri


Bomb bunuh diri, ketika tak ada lagi kawan yang dapat mendengarkan keluh kesah diri, di ambang batas keparahan ekonomi, ditambah lagi kemiskinan yang menteror setiap hari. Adakah yang mau perduli ? Jawabnya tak ada. Masing-masing kita masih sibuk memperkaya diri sendiri, persetan dengan kesejahteraan orang lain. Masa bodoh ada orang lain yang kelaparan karena kekurangan asupan makanan dan fikiran, "aku tak perduli" teriak mereka dalam hati.

Penteror bukanlah orang yang layak di bela, tapi sekaligus tak bisa di hakimi. Karena, bagaimana bisa kita menghakimi fikiran sesat. Hanya kita boleh memberi solusi atau jalan keluar. Kegalauan malam ini, karena jeratan yang semakin kuat oleh lintah-lintah penghisap. Dia tidak bisa diselamatkan dengan pidato, tetapi dengan aksi. Karena nasehat hanya membangun jiwa dan sama sekali tidak memperbaiki tubuh.

Bom bunuh diri, selayak nya kita ledakkan pada setiap egoisme pribadi. Tapi hal ini tak akan menambah sensasi bagi seorang yang telah lama teralienasi. Tekanan-tekanan terhadapat batang tubuh yang lemah. Sehingga marah itu meletus, didalam moncong senjata layaknya muntahan larva atau abu vulkanik dari gunung yang memang bernama merapi.

Akhirnya, biarlah yang berlalu tetap berlalu. Dan dosa-dosa akan di tanggung masing-masing kita yang memang tempat nya salah dan dosa. Optimisme ?? Hal itu sudah lama hilang. Kepercayaan diri ? Itu juga telah lama mati. Hanya Tuhanlah satu-satunya yang dapat mengerti dan memahami. Dialah satu-satunya energi tubuh kurus kering karena dicekam kepahitan. Keluh? Ini bukan keluh. Ini adalah realitas kehidupan dari banyak manusia yang katanya hidup di negeri yang bertuhan, berprikemanusiaan, berkeadilan dan yang semacamnya. Lemah ? Ya sangat lemah, karena aku berjalan sendirian di tengah lorong yang gelap dan sempit juga penuh duri . Tanpa seorangpun yang benar-benar perduli.

"Hidup bagi penguasa dan pengusaha adalah comedy, karena mereka bisa bermain-main sekehendaknya, tapi hidup bagi kaum melarat adalah tragedi" -RG