Salah Faham Si Kaya Terhadap Si Miskin


Meski sangat jarang namun ada saja seorang kaya yang coba-coba perduli pada si miskin. Tapi sebagian mereka yang mencoba itu tidak benar-benar faham tentang apa yang sesungguhnya di kehendaki si miskin. Taroklah ada seorang kaya yang membantu si miskin dengan umpamanya memberikan bantuan sedekah berupa sembako atau pun pinjaman sedikit uang. Lantas kemudian sikap si kaya seolah menunjuk- nunjuk pada si miskin, dengan wajah yang penuh rengut (bermuka masam), melihat si miskin bisa di beli atau tak punya harga diri. Oh maaf saja, si kaya yang seperti itu pasti akan di kutuk habis-habisan karena bagi seorang miskin tak ada yang lebih berharga daripada harga diri. Dan siapa pun yang merendahkan harga dirinya, maka si miskin pasti akan menyiapkan pemberontakan/ perlawanan.

Tetapi begitulah kebanyakan sifat kaum kaya, mereka tak jauh beda dengan Abu Jahal dan Abu Lahab. Yang selain gemar menghisap dan memonopoli juga rakus dan tamak. Mereka pula gemar menumpuk-numpuk harta dan suka memperbudak orang yang lemah. Ini sungguh berbeda dengan mereka yang memang benar-benar tulus dan ikhlas membela kaum miskin. Mereka yang berjuang untuk memerdekaan kaum meelarat. Bukan malah memperbudaknya hingga kurus kering.

Kesalahfahaman yang semacam ini, lumrah bagi mereka kaum kaya yang tak punya fikiran dan juga nurani. Mereka meganggap kekayaan mereka itu adalah semata-mata adalah hasil dari kerja mereka. Padahal di sebagian harta mereka ada hak si miskin yang bila tak di berikan maka ia termasuk merampas hak orang lain. Inilah pula alasan mengapa Indonesia negeri yang mayoritas nya Islam. Tapi juga sekaligus mayoritas miskin. Mereka itu labelnya saja yang beragama, namun pada hakekatnya kapitalis yang menjadi penyebab ketimpangan ekonomi semakin tajam saja. Hari-hari ini.