Wanita Progresif, Kawan ku di Jagad Maya


"Nama saya Ina" katanya. Ketika pertama kali kami berkenalan di jagad maya. Lantas obrolan kami berlanjut di WhatsApp, karena ada kendala diperpesanan jejaring sosial saya. Pada awalnya kami saling melempar teka-teki kepada satu sama lain. Karena kita tidak bisa percaya begitu saja dengan seorang yang baru kita kenal.

Namun lama-kelamaan aku semakin antusias mengobrol dengannya. Pola fikirnya yang seksi dan tidak monoton, membuat aku terpana. " ah...kalimat itu terlalu lebay untuk wanita secerdas dia". Tapi entahlah, tak ada kata lain yang terlintas di benakku untuk mengekspresikan kekagumanku padanya.

Di tengah keasikan berbenturan di alam fikir, tiba-tiba ada satu cerita darinya yang membuat aku tertegun. Bagaimana tidak, sejak kecil dia sudah mengalami kejahatan seksual oleh seseorang yang seharusnya menjadi teladan. Di tahap selanjutnya, kisah pahit kehidupannya masih saja soal kejahatan seksual. " Vulgar sekali" fikirku.

Tak bisa di sanggah sebenarnya, di samping keseksian fikiran, gaya busana nya pun terbilang berani. Aku sebagai seorang pria normal juga merasakan aura yang sama. Muncul keinginan untuk memberikan nasehat agar dia mulai menjaga kehormatannya dengan mengenakan pakaian yang sedikit sopan. Tapi, setelah di fikir lagi, kelakuan ku pun masih buruk. Sehingga aku merasa tak pantas untuk memberikan nasehat.

Fikiran ku semakin tenggelan jauh, ada kala nya sampai pada tingkatan nirwana. Cinta,.... iya... ku memang begitu, iya.. aku kagum benar kepadaya. Meski sejak kecil telah merasakan pahit, getirnya dunia. Namun dia tetap survive, dia telah berdamai dengan keadaan. Dan memulai aktivitas yang baru, agar bisa berguna untuk semua umat manusia.

Ada rasa ingin yang begitu kuat, sebenarnya. Untuk dapat langsung bertatap muka., dan berbicara dari hati ke hati. Entah semoga saja sang waktu merestui. Perkenalan ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Setelah lama aku mencari sosok yang demikian tangguh.

Aku ingin menjadi sendal bagi telapak kakinya yang halus, bahu sebagai tempatnya bersandar. Atau sebagai bantal yang dihajar babak belur, kalau-kalau dia tengah kesal. Dan menumpahkan segala amarahnya.