Ekonomi Syariah, Sistem Yang Memiskinkan


Banyak orang yang mencoba melawan liberal kapitalisme ala Amerika, atau Sosialisme pasar ala Tiongkok dengan satu propaganda agama yang disebut ekomoni syariah. Yang mana hal tersebut dimaķsudkan untuk menjerat rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam agar mau menjadi konsumen mereka. Untuk itu di dirikan bank-bank syariah, serta di proklamirkan bisnis-bisnis lain atas nama syariah.

Setelah mengetahui sedikit mengenai konsep-konsep yang di tawarkan sistem tersebut, beberapa persen masyarakat setuju dan tertarik untuk terlibat kedalam korporasi-korporasi syariah tersebut. Antara lain karena adanya pembagian hasil yang rata disana, lebih lagi ada doktrin ayat suci yang disembarang tafsirkan disana, yang tujuaannya hanyalah untuk sekedar promosi, mencari keuntungan. Namun rakyat yang lugu akan dengan mudah dapat di rayu dengan janji-janji surga yang melulu di propagandakan oleh kaum pro syariah itu.

Namun celakanya, ketika sudah terlibat di dalam korporasi-korporasi demikian. Maka akan terlihatlah pula ketimpangan yang tak ada bedanya dengan sistem kapitalisme. Pembagian hasil yang di gembar-gemborkan hanyalah semu belaka. Karena kemacetan produksi yang disebabkan oleh kapital yang tak memadai. Maka kelas buruh lah yang akan menjadi korban, bayangkan saja jika produksi macet akibat tidak tersedianya bahan-bahan maka otomatis buruh-buruh tersebut akan menganggur. Dan pada akhirnya akan terjerat hutang. Nah hutang ini lah yang kemudian menjerat kaki dan leher kelas buruh agar tak bisa kemana-mana.

Jadi dengan demikian sistem syariah yang semacam ini hanyalah utopia, dan lebih memiskinkan daripada sistem kapitalisme yang ada sekarang. Meskipun tetap saja ketimpangan itu ada, karena memang para kapitalis menjaga ketimpangan itu sendiri agar tiada saingan bagi mereka. Akhir nya dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa ekonomi syariah bukanlah ekonomi yang berasaskan syariat islam. Namun hanyalah kapitalisme yang berbaju agama.