Fahri Hamzah : Membahas Antonio Gramsci (Ketua Partai Komunis Italia)


Jalan politik pada hakekatnya adalah jalan-jalan perjuangan yang mulia. Para founding father kita seperti Soekarno, M Hatta, Sjahrir, M. Natsir, memilih jalan ini untuk memerdekakan (liberasi) negeri ini dari penjajahan. Jalan politik yang pada tahun 1945 lalu sangat dibanggakan dan menggelari mereka dengan sebutan pahlawan kini tidak seindah dulu. Jalan politik yang secara nyata telah memberi kesadaran para pejuang kita untuk berfikir cerdas dan berkorban ikhlas. Maka wajar jika dulu Plato menginginkan bahwa para filosuflah yang pantas menjadi pemimpin karena kelebihannya dalam ranah fikir. Jalan politik inilah yang mengantarkan kuatnya peradaban manusia di masa lampau. Peradaban Islam, Barat dan Komunis niscaya akan hancur jika jalan politik ini tidak diambil sebagai bentuk strategi pertahanan. Kesadaran berpolitik inilah yang kemudian menyatukan ide manusia sehingga membentuk komunitas peradaban dan rela berperang untuk mempertahankannya.

Antonio Gramsci membedakan antara masyarakat politik (political society) dan masyarakat sipil (civil society), yaitu masyarakat politik yang diterjemahkan sebagai negara yang terdapat aparat koersif seperti adanya penjara, pengadilan dan polisi. Masyarakat politik identik dengan coersive power (kekuasaan memaksa), sedangkan masyarakat sipil adalah wilayah dimana negara mengoperasionalkan bentuk kekuasaan dengan cara halus, nilai religi, budaya, pendidikan, politik dan ideologi (hegemoni konsensus). Gramsci melihat negara bukanlah sebagai tahap final, tetapi sebuah instrumen transisi menuju mesyarakat sipil yang teratur dan terbebas dari negara (Fahri Hamzah, 2010 : 404)

Apa yang Gramsci sampaikan menarik seiring fakta bahwa negara sebagai representasi masyarakat politik yang memiliki aparat koersif lebih banyak melakukan pelanggaran. Para aparat koersif yang lebih dominan mengerti aturan hukum juga terbukti lebih sering menerobos norma-norma hukum yang mereka buat. Para pemangku negara ini secara tidak langsung ikut andil dalam menjajah politik yang semestinya merdeka dan hadir untuk kepentingan rakyat. Politik yang semestinya mengikat peradaban berbalik arah menjadi perusak peradaban. Gramsci juga mengapresiasi bentuk gerakan sipil dimana mereka membentuk kekuasaan dengan cara halus. Gramsci dengan berani mengatakan bahwa masyarakat politik bukanlah bentuk final, tapi bentuk transisi menuju masyarakat sipil, atau mengutip pendapat Islam adalah bentuk masyarakat madani. Masyarakat sipil memiliki kemampuan politik bukan untuk menguasai tapi lebih ingin menjaga nilai peradaban. Masyarakat sipil dalam bahasa Gramsci di sebut intelektual organik.  Intelektual organik muncul dari relung akademisi, pers, ormas, agamawan dan aktivis sosial budaya. Para sipil ini berjuang untuk menjaga nilai religi, budaya, pendidikan, politik dan ideologi dari gerusan pragmatisme progerif kaum politik praktis.