Hari Raya dan Dekonsentrasi Kapital


Pada setiap hari raya banyak orang menjadi shaleh secara sosial. Ini mengakibatkan bertumbuhnya ekonomi dimana-mana dan itu sangat baik. Dapat kita lihat di hari-hari raya tersebut yang surplus mensubsidi yang defisit. Namun sayangnya hal seperti ini tak berlangsung sepanjang tahun. Situasi akan segera berbalik tatkala hari raya berlalu.

Penimbunan harta maupun komoditas segera berlangsung kembali. Penghisapan oleh tuan-tuan kepada pekerja nya sudah tak terelakan. Mengapa perubahan semacam ini bisa sebegitu cepatnya terjadi ? Adakah faktor kunci atas semua itu ?
padahal sudah begitu jelas apa yang terjadi pada tiap-tiap hari raya sangat baik bagi semua pihak. Adakah ini karena defisit keshalehan sosial yang berakibat pada terwujudnya manusia seperti yang di definisikan Adam Smith. Yakni hakekat manusia adalah serakah dan egois. Yang kemudian melahirkan Fir'aun-Fir'aun serta Korun-Korun gaya baru ?

Para kapitalis (penimbun modal) tentu akan menampik hal tersebut karena pada dasarnya mereka anti-sosial. Apa yang mereka lakukan padà hari raya hanyalah kepura-puraan akibat keshalehan semu yang dangkal. Dan ketika semuanya itu telah berlalu maka kembalilah mereka kepada habitat asalnya yaitu individualistik yang acuh pada sekitar apalagi kepentingan nasional. Untuk itulah diperlukan satu sistem baku tentang dekonsentrasi kapital yang bisa menjadikan ekonomi sepanjang tahun sama tumbuhnya seperti pada tiap-tiap hari raya.