K.H. Yahya Cholil Tsaquf Simbol Islam Rahmatan Iil Alamin


Dalam penyelesaian konflik ada dua jalur yang umumnya di tempuh. Pertama tentu saja dengan jalan perang dan yang kedua dengan jalan diplomasi. Adalah K.H. Yahya Cholil Staquf seorang NU yang baru-baru ini menjadi pembicara di negeri yang paling banyak di kutuk umat muslim dunia, Israel. Karena keberangkatannya ini pula lah namanya ramai di perbincangkan. Mulai dari yang memuji sampai ada pula yang mencemooh tindakan beliau tersebut.

Lantas bagaimana cara kita memandangan kunjungan tersebut ditinjau dari kacamata akal sehat ?
Seperti yang telah diungkapkan diawal tadi bahwa penyelesaian konflik selalu melalui dua jalur yakni perang dan diplomasi. Berkaitan dengan konflik Israel dan negara Palestina ini banyak pihak yang mengecam tindakan Israel yang sewenang-wenang terhadap warga Palestina. Belum lagi soal penyerobotan Israel atas wilayah Negara Palestina. Bukan hanya umat muslim yang mengutuk sikap Israel itu. Melainkan semua umat manusia yang memiliki perikemanusiaan pasti juga merasakan hal yang sama.

Lalu mengapa tidak diperangi saja itu Israel ?
Meski banyak di dengungkan bahwa negara-negara seperti Turki, Iran dll siap angkat senjata membela Palestina tapi toh pada kenyataannya hal itu bukan jalan keluar yang terbaik. Karena dana dan nyawa yang jadi taruhannya jika memang benar-benar akan menyerang Israel. Padahal banyak dari Negara itu kondisi ekonominya tak begitu baik untuk melakukan perang. Alhasil pernyataan perang itu hanya sekedar buah bibir semata. Berbeda dengan itu Indonesia lewat K.H. Yahya yang berasal dari NU telah melakukan langÄ·ah nyata dengan mendatangi pusat pemerintahan Israel itu sendiri.

Dengan jalan diplomasi ? Ya dengan cara itu barang kali bangsa ini dapat menunjukkan pada dunia bahwa negeri ini tanpa banyak basa-basi, orasi yang berapi-api. Langsung bermanuver ke titik jantung pertahanan musuh. Bukan dengan moncong senjata, tapi dengan ketajaman pikiran dan sikap yang elegan. Meski konsekuensinya beliau harus menuai banyak kritik di dalam negeri, namun langkah itu sebetulnya patut diacungi jempol. Tentu saja oleh orang-orang yang faham strategi perang, bukan oleh mereka yang bersifat kekanak-kanakan dalam menghadapi persoalan.

Selain itu langkah K.H. Yahya ini juga membuktikan pada dunia bahwa Islam tak identik dengan terorisme, tak pula gila perang. Malahan Islam adalah agama yang berperadaban tinggi. Yang mengedepankan dialog dengan pikiran yang jernih, yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.