Penindasan Perempuan Era Kartini VS Era Kapitalisme dan Kultur Patriarki


Jika dulu Kartini tampil sebagai perempuan yang melawan hegemoni adat dan kultur Jawa maka berbeda dengan hegemoni zaman globalisasi sepeti sekarang.
Dalam beberapa dekade terakhir gaung feminisme semakin besar terdengar, Kesadaran akan kesamaan eksistensi sebagai seorang perempuan dalam pola patriarki seolah semakin menjadi. Berbicara mengenai feminisme di Indonesia merupakan hal yang selalu menarik, bukan tanpa alasan, di bumi pertiwi ini para kaum perempuan mempunyai ruangnya sendiri untuk dihargai dan diperingati. Pada bulan April setiap tahunnya, gaung feminisme berada pada tahap paling nyaring, karena pada bulan itulah di peringati sebagai bulannya Kartini.

Semenjak kepergian tokoh wanita yang paling dikasihi itu pada 1904, jejak pemikirannya masih tetap terdengar cukup jelas. Benar seperti apa yang di katakan Slavoj Zizek bahwa hegemoni tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan manusia, saat kita terlepas dari satu hegemoni, maka kita akan terikat dengan hegemoni lain.
Jika Kartini bisa dikatakan sebagai tokoh kontrahegemoni pada masanya, maka hegemoni baru yang lebih kompleks telah mengancam para kaum feminis. Kartini boleh jadi hanya menuntut haknya sebagai seorang perempuan terhadap kungkungan budaya yang menjerat hampir setiap perempuan pribumi, perlu digarisbawahi pula bahwa Indonesia dengan keberagaman budaya di seluruh nusantara hampir tidak mungkin benar-benar menghapuskan budaya patriarki secara nyata.

Bila ditilik kembali, agaknya baik di Jawa, Sunda, Sumatera, Minang, atau Batak sekalipun budaya patriarki masih sangat kental. Kelongggaran akan kebebasan untuk memiliki pengetahun dan pengalaman di luar daerah memang merupakan bentukan zaman serta globalisasi, akan tetapi Kartini juga turut andil dalam menciptakan kesetaraan itu. Terlepas dari itu hegemoni terhadap perempuan yang sesungguhnya segera datang dengan basis yang berbeda.
Di dalam atmosfer kapitalisme dan peradaban teknologi yang tinggi serta pemanfaatan media massa seperti sekarang ini, merupakan sebuah hegemoni baru bagi feminisme bahwa perempuan masih menjadi objek empuk para kapitalis untuk mengeksplorasi produk mereka terutama dalam hal seksualitas.

Pada dasarnya, feminisme zaman Kartini pun masih sekitar seksualitas yang diperjuangkan. Pada masa itu Kartini, yang sudah dipingit sejak umur 12 tahun untuk dikawinkan dengan bangsawan, melawan dan memberontak meskipun pada akhirnya hak-hak yang ia tuntut dikepung oleh budaya yang berlaku. Perempuan dan seks memang tidak pernah bisa dipisahkan, selalu berdampingan dengan kompleksitas masalah yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada zeitgeist (jiwa zaman) yang berlaku.

Sarte dan Merleau Ponty mengatakan, "Sexuality is co-extensive with existence”. Artinya, seksualitas berdampingan dengan eksistensi. Dalam hal ini, eksistensi selalu lebih cenderung kepada seorang perempuan. Buktinya, perempuan lebih mendominasi dalam hal eksplorasi tubuh. Tidak mengherankan jika banyak kaum perempuan merasa tidak puas dengan tubuh yang diberikan secara alamiah. Mengenai hal itu media berperan cukup besar, karena media merupakan alat yang secara tidak langsung menjadikan patokan umum bagaimana definisi cantik dan indah bagi perempuan. Ketidakpuasan terhadap diri perempuan itulah yang menjadikan perempuan sebagai bidikan utama produk kapitalis.

Kapitalis telah menempatkan perempuan pada posisi inferior dan menjadi alat bagi berlangsungnya suatu kekuasaan penundukan (Ellen Riordan, 2004). Hegemoni inilah yang dimaksud hegemoni baru. Bukan lagi hanya sekedar hegemoni melawan arus kungkungan tradisi, hegemoni ini muncul dengan senyap, tidak eksplisit tapi terasa. Cara kerjanya memang cukup halus, sehingga hanya perempuan dengan pengetahuan dan kesadaran yang tinggi yang benar-benar menyadari bahwa hegemoni kapitalis ini telah benar-benar bekerja. Perempuan disubordinasikan sebagai sebuah objek seksualitas, tapi justru merasa percaya diri karena dikenal, didosmestikkan tapi merasa disanjung, merasa dijadikan ratu padahal sesungguhnya dilecehkan secara halus.
Media merupakan alat produksi utama untuk mendukung industri kapitalis menjalankan keuntungan kapital dari ketidakpuasan konsumen, melalui standardisasi fisik seorang perempuan, lalu menimbulkan ketidak percayaan diri seorang perempuan ketika merasa dirinya tidak sesuai dengan standar kecantikan seorang perempuan pada umumnya.
Seperti itulah perempuan akan merasa tersanjung ketika didomestikkan serta mendapatkan popularitas, yang mengakibatkan munculnya obesesi untuk menjadi yang tercantik dengan produk kapitalis bernilai tinggi. Semakin banyak popularitas yang didapat, semakin berani pula untuk menjadi konsumen produk kapitalis setinggi langit, kemudian merambah kepada gaya hidup yang semakin tinggi. Bila sudah begitu stigma bahwa kecantikan itu terukur dalam warna kulit, bentuk tubuh, serta semahal apa produk yang dipakai mulai tertanam dalam pandangan perempuan secara meluas, pada akhirnya yang merauk keuntungan paling besar tentunya kapitalis.
Ketika stigma yang dimasukkan kapitalis telah mulai hidup dan bernapas dalam keseharian, maka hegemoni era kapitalis ini memang bisa dikatakan telah mengakar cukup kuat. Melawan arus kapitalisme di masa globalisasi seperti sekarang ini rasanya bukan wacana yang bagus, karena bagaimana pun era kapitaliseme tidak akan pernah bisa di hindari.

Bukannya tidak ada. Tentunya para tokoh perempuan yang kontrahegemoni banyak, bahkan hampir di setiap daerah punya. Namun, agaknya kesadaran pengetahuan seharusnya mutlak dimiliki oleh setiap diri perempuan, perempuan dengan segala tuntutan haknya untuk sebuah kesetaraan harus lebih pintar ‘berhegemoni’ dengan sesuatu yang menjadikannya terbodohi oleh stigma-stigma yang diciptakan kaum kapitalis. Perempuan tidak seharusnya terus-terusan menjadi objek seksualitas.
Ketika Kartini dan kesadaran pengetahuannya pada zaman dulu habis-habisan melawan serta menentang budaya patriarki dalam konteks kungkungan budaya dan tradisi di daerahnya, yang secara eksplisit nyata berlaku, maka sekarang ini di era kapitalisme dengan kecanggihan serta standar ilmu pengetahuan yang sudah sangat tinggi, kesadaran pemikiran akan perlunya melawan hegemoni baru harusnya tinggi pula, jangan sampai malah terbawa arus terlalu dalam sehingga tidak menyadari bahwa kaum feminis telah dijadikan objek demi keuntungan kapital.

Via kumparan.com