Tak Ada Buku, Gadget Pun Lebih Baik


Seiring dengan semakin majunya perkembangan teknologi, kini rasa-rasanya semua orang punya gadget. Entah tau atau tidak fungsinya tapi itu menjadi semacam keharusan tak tertulis. Tak hanya di kota, bahkan di kampung-kampung pun semua pihak bergadget ria.

Meski ada segelintir pihak yang mengeritik penggunaan gadget. Namun bagi kalangan yang lebih cerdas gadget adalah barang yang berguna. Misalnya baru-baru ini seorang yang gemar membaca mengejek perilaku bergedget demi menyombongkan kelompoknya yang kesana-kemari membawa buku. Padahal hampir semua buku bacaan dapat di akses lewat internet. Asalkan benar-benar senang membaca, bacaan di internet jauh lebih lengkap ketimbang di perpustakaan dunia sekalipun.

Perilaku dungu yang sok gemar membaca ini sungguhpun baik namun sangat menggelikan. Entah mereka tak paham atau hanya ingin pamer semata. Tapi membaca lewat gadget jauh lebih murah lagi pula mengurangi penggundulan hutan. Tentu kita tahu bahwa kertas yang dipakai buat menulis buku itu dihasilkan dari pohon. Apa mereka tak paham hal sesederhana itu ? Apa mereka tak tau etika lingkungan ?

Tulisan singkat ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi para pengoleksi buku. Tentu saja mengoleksi buku adalah hal baik. Hanya saja ini semacam jawaban atas kejumawaan segelintir oknum yang seolah mendiskriminasi pengguna gadget. Sungguhpun banyak yang salah kaprah dalam menggunakan gadget. Yakni sekedar untuk bermain games, atau memposting sampah di social media. Namun tak bisa dipukul rata bahwa pengguna gadget artinya tak gemar membaca.

Hal lain, yang terpenting bukanlah membaca buku atau gadget tapi pelajaran apa yang dapat diserap dari situ, seberapa paham soal apa yang di baca, sejauh mana apa yang kita baca dapat di aplikasikan dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Andai kata Bung Hatta hidup di masa sekarang niscaya dia malas pergi ke perpustakaan dan koleksi bukunya tak akan berpeti-peti. Karena Bung Hatta adalah penggila baca bukan tukang pamer buku bacaan.