Salah Faham Profesor Terhadap Komunisme

Bicara mengenai komunisme, masih ada saja orang yang keliru mendefinisikannya. Tak terkecuali seorang yang disebut profesor. entah di sengaja atau tidak, definisi yang dipaparkan tersebut sama sekali tidak tepat bahkan terkesan asal-asalan. Berikut ini 7 parameter negara komunis menurut sang profesor disertai dengan kritik terhadapnya :

Pendistribusian keadilan kepada seluruh rakyat memanglah ciri dari negara komunis. Akan tetapi mengartikan komunisme sebagai sama rata sama rasa adalah keliru sama sekali. Hal ini pernah di bantah sendiri oleh wakil ketua II CC PKI, Njoto. Dalam sebuah dokumen yang memuat pidato Njoto tersebut, Wakil DN Aidit itu menerangkan bahwa komunisme bukanlah sama rata sama rasa melainkan setiap orang bekerja menurut kemampuannya, dan mendapatkan hasil sesuai dengan hasil kerjanya. Orang yang tak bekerja tentu tak kebagian apa-apa. Hal yang demikian juga telah lama di temui juga di tulis oleh Tan Malaka di dalam bukunya dari penjara ke penjara. Hal ini disaksikannya sendiri sewaktu Tan malaka berkunjung dan tinggal di Uni Soviet.

Bicara mengenai pasar didalam negara komunis maka ada baiknya memandang Kuba. Negeri Fidel Castro tersebut sungguhpun menganut komunisme akan tetapi pasar-pasar tradisional tetap hidup disana, hanya saja negara itu menghindari konsentrasi kapital secara besar-besaran oleh individu. 
Alih-alih tidak kreatif dan inovatif nyatanya negera-negara komunis menolak tunduk pada budaya-budaya barat, tak pula terikat pada produk-produk kapitalis Amerika. Mereka justru membuat sendiri senjata, barang-barang elektronik, dsb. Pun dalam segi seni dan sastra mereka negara-negara yang mandiri. Dan bagi sesiapa yang memiliki ilmu lebih dari yang lain tentu akan di support oleh negara.
Bahkan di Amerika sendiri hanya ada dua partai, yakni Demokrat dan Republik.
Dimana-mana negara pun para pengacau pasti di adili. Bukan hanya di negara komunis.
Warga negara didalam komunisme adalah pemegang kedaulatan. Oleh karena komunisme juga berarti kekuasaan ada di genggaman rakyat pekerjà (proletar). Adapun mengenai ketakbebasan media,
Hal kepemilikan yang di ingkari oleh komunisme adalah mengenai alat-alat produksi. Oleh karena itu definisi diatas adalah kekeliruan total. Untuk itu kembali Njoto mengemukakan sanggahannya, yakni yang dimiliki bersama itu adalah alat-alat produksi seperti pabrik, listrik,air, sawah dsb. Dan bukanlah meja,kursi, apalagi istri. Pendeknya bukanlah perabot rumah tangga yang dimiliki bersama, melainkan alat-alat Produksi. Menyinggung soal atheis, komunisme lebih tepat kalau dikatakan ideologi sekuler sama halnya dengan Kapitalisme dan ideologi-ideologi besar lainnya. Oleh karena ia memisahkan diri sama sekali dari eksploitasi terhadap agama demi tujuan politik. Adapun doktrin agama yang di kritik Karl Marx, adalah doktrin yang melemahkan manusia untuk berjuang. Yang mana hal itu adalah konspirasi para kapitalis dengan pemuka-pemuka agamà untuk menidurkan kesadaran kelas pekerja bahwa dirinya dihisap habis-habisan tenaga dan pikirannya. Melalui ayat-ayat suci perjuangan untuk melawan penindasan dilemahkan sama sekali. Hal demikian itulah yang di kritik Marx, dan sama sekali tidak memusuhi substansi agama itu sendiri.