Zohri Berprestasi, Pemerintah Dicaci, Bangsa Lain Memuji


Oleh: Arie Febstyo

Hingar bingar, suka cita menyambut semi final piala dunia yang tengah berlangsung di Rusia sempat hanyut dilumat oleh derasnya pemberitaan tentang Lalu Muhammad Zohri yang sukses mengukir prestasi di Kejuaraan Dunia Atletlik U-20 (di bawah usia 20 tahun) di Finlandia, Rabu (11/07).

Zohri sukses mengamankan medali emas dari 7 peserta yang berasal dari beberapa negara yang ada di dunia yakni Amerika, Swedia, Jepang, Jamaika, Inggris. Ia mencatat waktu 10,18 detik untuk lari 100 meter.

Segenap masyarakat Indonesia sejenak melupakan Piala Dunia, mereka menghiasi sosial medianya dengan pemberitaaan Zohri yang mereka comot dari situs resmi bahkan isu yang mereka buat sendiri.

Sadisnya lagi, mereka yang sangat antusias membuat Zohri sebagai bahan gonjang-ganjing mencoba membuat analis sendiri dengan cara mendadak menjadi pemerhati gerak-gerik Zohri setelah ia mengukir prestasi. Mereka memotong video yang ada di youtube saat Zohri tengah melakukan selebrasi atas kemenangannya.

Entah jin apa yang merasuki mereka secara massal, sehingga mereka bisa kompak melakukannya. Hasilnya, semua orang Indonesia itu sepakat menjatuhkan pemerintah Indonesia.

Dikatanya, Zohri sebelumnya tak di dampingilah, diabaikanlah, dan banyak lagi komentar yang sentimentilnya ke pemerintah terlalu besar.

Mulai dari bendera, memang dalam video, saat Zohri memenangkan perlombaan, bendera Indonesia memang tak langsung menyambutnya di garis finish, beda dengan penantangnya dari Amerika yang berhasil merebut posisi, kedua dan ketiga,  dimana keduanya bisa langsung mencium bendera negaranya.

Wajah bahagia dilepaskan Zohri saat itu, jelas dia sangat senang bisa menang, sambil menunggu pendampingnya datang membawa sangsaka merah putih, Zohri tetap melakukan selebrasi dengan cara tetap berlari hingga sujud syukur. Ia pun sempat berfoto bersama dua orang atlet yang tak lebih hebat darinya, dan memang waktu itu benderanya memang belum datang.

Pada akhirnya saat hendak di wawancara bendera yang ditunggu akhirnya datang juga. Dengan bangga ia langsung menaruh bendera tersebut di pundaknya, seakan ia menegaskan bahwa dia yang telah menjadi juara adalah anak Indonesia.

Namun sayangnya, mereka warganet terlalu sentimentil dengan pemerintah, pintarnya sangat berlebihan, analisis mereka seakan mengencingi tanah air mereka sendiri.

Mereka kompak menuding pemerintah sama sekali tidak menaruh perhatian kepada Zohri sebelum dia memenangkan perlombaan.

Dan yang cukup menyedihkan adalah klaim warganet bahwa bendera yang dikenakan Zohri itu adalah bendera Polandia yang dibalik. Mereka membuat asumsi sendiri, bahwa ada orang Polandia yang iba melihat Zohri kebingungan karena tak ada bendera Indonesia.

PASI sendiri sudah meluruskan terkait kabar itu. Menurut Sekretaris Umum PASI, Igor Tanjung, bendera yang dikenakan Zohri adalah bendera Indonesia.

Namun isu ini kadung bergulir kencang di media sosial, dan seakan menjadi alasan untuk mencemooh pemerintahnya sendiri, khususnya Menpora dan Pemprov di mana tempat Zohri berdomisili.

Herannya dari mana asal pemikiran bahwa itu bendera Polandia, toh tak ada peserta asal Polandia yang ikut bertanding bersama Zohri. Picik bukan? Pikir aja sendiri.

Namun, amarah sudah merasuki mereka, yang mereka inginkan adalah mencaci-caci, lagi, lagi, tanpa henti hingga isu yang dibuatnya sendiri menjadi basi.

Tak kalah banyak dari  mereka yang mencaci, ada juga yang pura-pura peduli, mendompleng apapun di atas prestasi Zohri.

Untungnya, semua tetap terkendali, Lalu Muhammad Zohri juga pasti tak peduli apa yang mereka ributkan, Mungkin Zohri juga membatin, hei, kalian tidak tahu bagaimana perjuangan saya bisa sampai di sini!

Yang jelas Zohri kini bisa menikmati buah dari prestasinya, bangsa lain pun menyanjungnya, banyak sekali antrean hadiah yang menantinya, saking banyaknya keluarganya pun ikut turun untuk membantu memilah hadiah.

Terimakasih Lalu Muhammad Zohri yang telah berbuat sesuatu untuk bangsa mu, dan terimakasih juga kepada Zohri-zohri lain dimana pun yang kadang kasat mata saat sedang berjuang untuk Indonesia.