Jembel Tengik, Jakarta 17 Agustus 1945


Halimah cemberut, karena sang kekasih melirik perempuan lain. Wajahnya sendu, matanya sayu dan bibirnya manyun, ah sebenarnya sungguh menggemaskan. Tapi apalah daya uluran tangan Jembel Tengik Cheung Kun Tat tak mendapatkan sambutan dari Halimah yang sedang resah dan gelisah.

Andainya ia dapat mengerti betapa sedih hati Cheung Kun Tat melihat kemurungannya, pastilah Halimah akan luluh juga hatinya. Tapi "Ya sudahlah" pikir Cheung Kun Tat, lagian wanita mana yang sudi berdekatan dengan seorang Jembel Tengik seperti aku ini.

Namun malam semakin larut, Cheung Kun Tat tak bisa terpejam. Pikirannya masih terpaku pada keadaan Halimah. Hatinya turut pula gelisah, sambil sesekali memandangi wajah cantik itu di dalam lamunan. Cheung Kun Tat benar-benar galau. Sedangkan Halimah tak memperdulikannya, dan sibuk dengan keresahan akan sang kekasih. Jembel Tengik itu mencoba sekali lagi mengulurkan tangan dan menyediakan bahu. Atau kalau perlu nyawapun sepertinya akan ia korbankan. Demi Halimah yang tersayang.

Detik berganti detik, menit pun terus berjalan. Langit telah semakin gelap, namun Halimah tak juga memberi jawaban. Hanya puisi dan sajak yang kini menyelimuti qalbu Jembel Tengik. Ingin ia berteriak, mengungkapkan segala isi hati. Tapi Halimah,Halimah, dia pasti takkan mendengarkan.

Lambat laun alunan suara musik turut pula mengiringi. Entah dari mana suara itu berasal. Jembel Tengik semakin merindu, seperti dada merindukan punggung. Yakni rindu yang tiada tertanggung. Desing suara suling mendayu, menyayat-nyayat relung qalbu. Suara hati semakin meraung-raung, untuk Halimah yang jelita. Jembel tengik, terhanyut dan tenggelam semakin dalam.

Tiba-tiba sepucuk surat pun datang, Jembel Tengik girang bukan kepalang. Sebuah keajaiban yang tak terduga. Halimah membalas pesannya. Perlahan-lahan Jembel Tengik membuka surat, menerka-nerka apa kiranya yang di tulis sang pujaan untuk nya. Dan akhirnya terbaca, tulisan tangan nan indah itu berbunyi "Tolong Jangan Ganggu Saya".

Jembel Tengik terhentak dan diam sejenak, tapi kemudian tersenyum. Diambilnya kertas dan alat tulis. Kemudian menulis dengan percaya diri "maafkan aku, karena hatiku takkan pernah bisa berhenti untuk mengetuk pintu mu".

Surat telah melayang, dan jatuh tepat di depan Halimah. Akan tetapi jangankan mengambil atau membuka catatan itu. Halimah malah mengacuhkan
, hingga berhari-hari, surat itu masih tergeletak di sana. hingga akhirnya lenyap di terbangkan angin, tapi cinta kepadanya takkan pernah lenyap.

Jembel Tengik, Jakarta 17 Agustus 1945