Menjahit Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan, Dalam Kehidupan Berumah Tangga



Yulia membanting setrika sambil berteriak memaki "suami sialan, beraninya cuma sama istri" selepas dirinya di tampar oleh ardo, suaminya sendiri. Lantaran mereka adu mulut karena perbedaan pendapat dalam kehidupan rumah tangga yang telah sekitar 7 tahun mereka lalui. Ardo adalah seorang pria berumur 32 tahun, itu memang merupakan sosok suami yang masih berpegang pada paham patriarkisme. Yakni paham yang menyatakan bahwa pria berada diatas perempuan. Hal ini cukup wajar, mengingat Ardo tak sempat mengenyam bangku kuliah, di tambah kemalasannya untuk membaca literasi. Jadilah ia seorang yang kolot dan super konservatif.

Sementara itu Yulia, adalah seorang perempuan modern namun tak kalah konservatifnya. Lagi pula ia lugu meski dahulu pernah tinggal dan bekerja di ibu kota. Sama seperti suaminya Ardo, Yulia juga tak pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah, dan juga sangat jarang membaca literasi sehingga pengetahuaannya sangat terbatas. Namun Yulia memiliki keterampilan menjahit, ini karena dia pernah kursus jahit di Jakarta sewaktu gadis dulu.

Oleh karena kepandaiannya menjahit pakaian inilah akhirnya Yulia berkat di dorong suaminya, Ardo. Memutuskan untuk membuka usaha jahit kecil-kecilan di rumahnya yang berada di salah satu gang sempit di pusat kota. Sebagai seorang yang tak punya pekerjaan tetap namun rajin dan mau bekerja apa saja, Ardo selanjutnya ikut membantu istrinya sebagai penjahit otodidak.

Dari tahun ketahun mereka hidup dari usaha jahit ini, dengan diselingi cekcok mulut diantara mereka. Puncak nya, pada suatu sore. Seperti biasa pasangan ini sibuk menjahit pakaian yang di pesan pelanggan. Namun tiba-tiba karena saking kacau nya pikiran Ardo salah memotong pola dasar pakaian yang hendak di jahit. Karena ini lah cekcok mulut mereka berujung penamparan Ardo terhadap istrinya Yulia. Meski bukan pertama kali tapi tetap saja hal ini menyakitkan hari Yulia.

Disisi lain, Ardo yang masih saja buta terhadap kesetaraan gender. Menganggap perilaku nya sama sekali tidak melenceng dari etika kehidupan berumah tangga. Padahal hal itu merupakan kesalahan yang teramat berat bagi seorang laki-laki. Karena sungguhpun paham patriarkisme belum bisa lepas dari padanya lantaran ketidaktahuannya. Namun sebagai seorang pria tak pantas baginya memperlakukan wanita dengan sewenang-wenang seperti itu.

Oleh karena inilah, disini saya tuliskan kisah ini. Agar supaya, dikemudian hari. Hal-hal semacam ini tak terulang dan di temukan lagi. Pada pasangan lain di luar sana. Lebih dari pada itu, saya pula berharap agar kesetaraan pria dan wanita menjadi perhatian khusus. Lebih-lebih bagi mereka yang hendak berumah tangga. Agar supaya tak terperangkap pada pemahaman konservatif semacam feodalisme,patriarkisme, dan hirarkisme.