Menyoal Mentalitas Kelas Pekerja Indonesia


Oleh : Muhammad Mucklis

Kondisi mental dari kelas pekerja Indonesia barangkali ada beragam macamnya. Akan tetapi yang coba saya uraikan disini adalah beberapa contoh yang telah saya jumpai sendiri dilapangan. Yakni soal mentalitas budak yang sering saya jumpai pada diri kelas pekerja Indonesia, sedangkan yang lain adalah watak kelas pekerja yang menjilat keatas dan menginjak kebawah. Mereka ini sebenarnya tergolong kelas menengah karena telah membawahi banyak pekerja lain. Sebut saja mereka telah menjabati posisi sebagi manager dalam suatu korporasi ataupun sudah tidak bekerja lagi dan memilih menjadi pebisnis.

Yang pertama disini saya akan mencoba menguraikan mentalitas kelas pekerja yang bermental budak. Oleh sebab apa saya mengatakan demikian. Antara lain karena kelas pekerja semacam ini tidak mau berjuang atau mungkin tak tau apa yang harus di perjuangankan nya. Hal ini bisa kita lihat pada tiap-tiap tanggal 1 mei yang merupakan hari buruh sedunia. Disitu kelas buruh/pekerja beraksi namun sayang hanya menuntut "Kenaikan Upah" dan juga mempermasalahkan jam kerja. Dan jika kedua tuntutan ini dipenuhi maka mereka akan diam dan tidur. Hal ini sebenarnya kekeliruan yang parah, karena sebenarnya kelas pekerja harus menuntut perubahan cara berproduksi dan tentu saja wajib merebut hegemoni dari kelas borjuasi yang telah mengeksploitasi mereka selama ini. Tapi hal ini tak terjadi, lagi-lagi karena kekurang tahuan pada diri aktivis kelas pekerja itu sendiri.

Selain dari pada itu, jalan pikiran kaum pekerja yang "nerimo" saja atas keadaan dirinya yang terhisap. Hampir-hampir menihilkan kesadaran kelas apalagi perjuangan kelas. Hati dan pikiran kelas pekerja indonesia terlalu lemah dan diperlukan perjuangan yang kuat untuk membangunkan mereka dari keterlelapan itu.

Selanjutnya yang kedua, yakni kelas pekerja yang telah berubah menjadi pimpinan maupun beralih menjadi pebisnis. Sikap mereka itu, mengadopsi gaya hidup kaum borjuis-kapitalis. Mereka ini umumnya adalah kelas pekerja yang telah terdidik dan mempunya kelebihan di bandingkan kelas pekerja biasa. Akan tetapi kepandaiannya itu tidak di pakai demi perjuangan kelasnya secara kolektiv. Melainkan dipergunakan untuk perjuangan dirinya sendiri. Dengan kata lain dia tak mau mendistribusikan keadilan dan memberantas ketertindasan seperti yang di rasakannya dulu. Baginya, yang penting dia merdeka. Terserah orang lain mau mati atau hidup.

Lebih parahnya lagi kelas menengah yang telah beralih menjadi pebisnis. Mereka ini alih-alih menyelamatkan jutaan manusia dari eksploitasi. Mereka justru memperpanjang barisan perbudakan. Dengan kelebihan yang ia punya, ia turut pula memeras dan menindas para pekerjanya. Bahkan lebih parah ketimbang penindasan yang ia rasakan dulu. Dengan dalih-dalih yang menjijikkan namun di bungkus doktrin agama. Hal ini berlanjut dari masa ke masa. Oleh karena itu seorang filusuf pernah mengatakan bahwa perjuangan kelas di Indonesia itu sangat berat. Karena ada kelas menengah yang menghalau antagonisme antara kelas borjuis dan kelas proletar/pekerja.

Untuk itu, kepada kelas pekerja di seluruh Indonesia. Berjuanglah !!!