Bekerja Merupakan Wujud Eksistensi Manusia


“Belajar terus tanpa pernah mempraktekannya (bekerja) akan menimbulkan kebimbangan. Namun berbuat terus (bekerja) tanpa mau belajar akan menjadi berbahaya – Kong Fu Tze”

Bekerja merupakan wujud eksistensi manusia. Tanpa bekerja maka eksistensi manusia dapat dipertanyakan kembali kebenarannya. Untuk pertama kalinya manusia terlahir di dunia ini, mereka sudah dibebani dengan suatu pekerjaan yang mengharuskannya untuk bekerja. Seorang bayi yang baru lahir sudah dibebani suatu pekerjaan yaitu menangis sebagai cara dirinya berkomunikasi dengan manusia di sekitarnya. Tangisan tersebut merupakan hasil dari pekerjaan si bayi sebagai wujud akan eksistensinya.

Upaya untuk memisahkan manusia dari bekerja adalah upaya sia-sia. Meskipun secara fisik manusia terpenjara--sehingga dengan begitu menghentikan potensinya untuk bekerja-- akan tetapi terali besi penjara tak dapat memenjarakan jiwanya untuk terus bekerja.

Bekerja sebenarnya hanyalah alat untuk mencapai Kebenaran Tertinggi. Bekerja memiliki maksud untuk meraih sesuatu yang kekal, tak lekang ditelan waktu dan zaman. Bekerja tidak semata-mata bertujuan untuk kepentingan saat ini, tapi merupakan bagian dari kesempurnaan manusia itu sendiri.

Kenyataannya pada saat ini, banyak manusia yang memiliki orientasi kerja demi kepentingan jangka pendek semata. Maka, tidak aneh kalau manusia modern banyak yang dilanda krisis kebahagiaan. Mereka selalu berharap sesuatu dari apa yang mereka kerjakan. Justru harapanlah yang seringkali mendatangkan kekecewaan.

Dalam perjalanan sejarah kemanusiaan, bekerja sering dipahami sebatas tindakan-tindakan untuk mencari keuntungan material saja, sehingga seseorang akan dikatakan bekerja ketika ia menghasilkan uang dan akan dikatakan tidak bekerja (pengangguran) ketika perbuatan mereka tidak menghasilkan apa-apa. Ini berbeda dengan apa yang diajarkan kitab-kitab suci bahwa bekerja harus ditujukan kepada Tuhan, tanpa mengharapkan keuntungan pribadi demi kesejahteraan dan kebahagiaan sesama umat manusia. Tindakan (kerja) pada hakikatnya digerakkan oleh hukum alam.

Selama manusia hidup di dunia ini, ia tidak bisa menghindarkan diri dari kerja dan pekerjaan. Berpikir adalah suatu tindakan atau kerja. Berjalan, berbuat sesuatu dan sebagainya adalah sebuah pekerjaan juga. Pendek kata hidup adalah suatu tindakan atau kerja. Orang tidak dapat menghindarinya, ia tidak bisa lari dari suatu pekerjaan, dari sifat atau hukum prakriti (alam, benda jasmaniah).

Agar bekerja betul-betul dapat dijalani penuh ketulusan dan totalitas, maka bekerja harus dimaksudkan sebagai media pembebasan diri dari kungkungan fisik atau kebutuhan material semata. Sebagai media pembebasan diri, maka pekerjaan apapun itu jenisnya dapat sungguh-sungguh dihayati, sehingga kepuasan bekerja pun dapat diraih. Apapun posisi atau jenis pekerjaan yang sedang kita jalankan, dapat menjadikan kita manusia seutuhnya manakala pekerjaan itu maksimal kita kerjakan. Di sanalah profesionalisme akan lahir, dan dari sana pulalah keunggulan kita sebagai seorang manusia pekerja akan muncul.

Dengan begitu seseorang akan terangkat derajatnya karena bekerja. Seseorang yang mengerti akan tugas kewajibannya akan mencapai kebajikan yang tertinggi. Pekerjaan yang tadinya bersifat keduniawian semata bertransformasi menjadi pekerjaan yang punya tujuan luhur.  Jadi setiap pekerjaan yang dilaksanakan dimaksudkan untuk untuk lebih mendekatkan diri kita kepada hal-hal yang luhur dalam hidup ini.

Semangat pengabdian yang mutlak kepada suatu pekerjaan dapat membersihkan jiwanya dan mendekatkan pelakunya kepada kebahagiaan abadi. Tidak akan lahir perasaan iri melihat pekerjaan orang lain karena dirinya juga sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang luhur dan berbeda dengan yang lain. Sepintas memang kelihatannya berbeda antara pekerja gedung dengan kontraktor, tapi pada hakikatnya pekerjaan itu serupa, yakni sebagai media untuk meraih keluhuran hidup ini.

Ilmu pengetahuan memegang peran penting dalam bekerja. Seseorang yang bekerja tanpa dibekali ilmu pengetahuan yang cukup tentang apa yang dikerjakannya akan jatuh pada pekerjaan yang miskin makna, karena untuk memaknai suatu pekerjaan diperlukan ilmunya sendiri. Hawa nafsu akan merajai diri kita jika tidak berpengetahuan. Dengan ilmu pengetahuanlah kita bisa mengidentifikasi hawa nafsu kita dan dengan begitu kita bisa menguranginya. Jadi, jika hawa nafsu sudah menaklukkan indera, maka hati dan pikiranpun akan mudah ditaklukkan.