Sutan Sjahrir Getarkan Dewan Keamanan PBB Tanpa Senjata dan Kekerasan


PERANG memang bentuk lain dari diplomasi. Tapi meskipun sudah membuka kontak senjata sejak dilanggar Belanda, Pemerintah Indonesia merasa tetap harus berdiplomasi lewat perantara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ya, ketika PBB baru berusia dua tahun, lembaga internasional yang didirikan Pasca-Perang Dunia II, 24 Oktober 1945 tersebut, sudah diramaikan dengan persengketaan Indonesia dan Belanda.

Dewan Keamanan (DK) PBB akhirnya turun tangan lewat gelaran sidang di Lake Success, New York, Amerika Serikat, pada 14 Agustus 1947, dengan agenda pembahasan perseteruan Indonesia dan Negeri Tulip, Belanda.

dan H Agus Salim, diutus jadi perwakilan Indonesia untuk menghadapi Belanda. Mereka menuju New York, via India dan Mesir, sembari “mengoleksi” dukungan dari dua negara tersebut.

Dalam sidang DK PBB tersebut, Bung Kecil–julukan Sjahrir, dihadapkan dengan diplomat senior Belanda, Eelco van Kleffens yang pada pernyataannya, melayangkan sejumlah argumentasi yang provokatif.

“Mana yang Anda percaya, mereka atau orang-orang beradab seperti kami,” seru Van Kleffens mengakhiri pidatonya, sebagaimana disitat dari buku ‘Sjahrir’ halaman 94.

Lantas giliran Sjahrir pun tiba maju ke podium. Dalam pidatonya, Sjahrir memulainya dengan penjelasan perkembangan terakhir di Indonesia, hingga menceritakan jauh tentang sejarah nusantara, ketika Kerajaan Majapahit mampu punya kontak perdagangan dengan Madagaskar di Afrika Timur.

Sebelum mengakhiri pidatonya, Sjahrir kembali merujuk pada situasi dan pelanggaran Perjanjian Linggarjati dengan menggunakan Pasal 17 perjanjian tersebut yang mengatur soal arbitrase.

“Saya yakin anggota dewan dapat menilai, apakah tuduhan Belanda tersebut benar atau salah. Namun ada satu fakta yang hendak saya tekankan,” seru Sjahrir.

"Pihak Belanda tidak membantah semua fakta yang terungkap pada pernyataan terakhir saya, di mana Belanda mengingkari Perjanjian Linggarjati. Ketimbang membantah pernyataan saya, pihak Belanda justru mengajukan tuduhan yang tak terbukti,” tandasnya.

DK PBB pun terkesan dengan pidato Sjahrir. Kesuksesannya di Lake Success itu bahkan berujung pada pembentukan Komisi Jasa Baik yang beranggotakan Australia, Belgia dan Amerika Serikat oleh DK PBB.

Pidato Sjahrir saat itu juga mengundang pujian dari media AS. Harian New York Herald Tribune yang naik cetak pada 15 Agustus 1947 pun, menyematkan kata-kata, “Pidato Sjahrir salah satu yang paling menggetarkan Dewan Keamanan”.